Rabu, 29 Januari 2014

Isi Penuh Wadah Imanmu

Iman menurut artinya yaitu percaya. Percaya yang bagaimana? Sebagaimana yang kita ketahui, yang setiap orang Islam wajib percaya, disebutkan dalam rukun iman. Sejak kecil waktu kita menginjak usia sekolah, kita masih ingat apa yang diajarkan oleh guru-guru kita, maupun ustadz ustadzah waktu ngaji. Sudah hafal diluar kepala apa saja tiu rukun iman yang berjumlah enam. Yaitu, iman kepada Alloh, iman kepada malaikat-Nya, iman kepada kitab-Nya, iman kepada rosul-Nya, iman kepada hari akhir, iman kepada takdir baik dan buruk.
Semuanya wajib kita percayai. Sehingga kita layak dikatakan sebagai orang mukmin.

Ibarat berbelanja, maka iman adalah wadah kita. Tempat menaruh barang. Hidup kita di dunia ini hanya sebatas mampir minum saja menurut para ulama. Hanya sekejap saja. Karena sejatinya kita itu memang bukan penduduk dunia ini, tetapi surga. Di dunia kita sebanyak-banyaknya mengambil bekal untuk akhirat.

Kita membutuhkan amal untuk akhirat kelak. Amal ini adalah untuk mengisi wadah, yaitu iman kita. Banyak amal berarti juga wadah kita banyak isinya. Orang muslim sudah mempunyai wadah/iman. Tinggal mencari isinya saja.



Berbeda dengan orang non-muslim. Sebanyak apapun mereka beramal, meraka tak akan memperoleh pahala/isi. Karena mereka tak mempunyai wadah tempat amal itu. Maka apapun yang dilakukan tak akan ada manfaatnya sama sekali.


Wajib bagi kita sebagai orang muslim selalu bersyukur atas nikmat Islam. Mungkin ada yang mempunyai tanda tanya besar mengapa? Karena dalam hal masalah kelahiran di dunia ini, kita tak akan bisa memilih, kita dikandung dalam rahim ibu siapa dan dimana tempat kita dilahirkan. Suatu anugrah yang besar yaitu kita dilahirkan dan memiliki orang tua muslim. Ya, kita Islam karena lantaran orang tua kita muslim dan beliau mendidik kita sebagai muslim. Alhamdulillah bi ni’matillah. Tak masalah. Walaupun mungkin ada yang bilang Islam yang kurang kuat atau apalah dikarenakan bukan dari pencarian sendiri, melainkan karena keturunan. Itu tidak perlu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah bersyukur kita dilahirkan sebagai muslim. J

Selasa, 28 Januari 2014

Jatah di Dua Tempat

Dua pilihan. Ada dua tempat. Surga dan neraka. Semua adalah sebuah pilihan kita. Mulai dari sekarang kita memilihnya. Yaitu semasa kita masih hidup di dunia. Sesudah kita mati, di alam kubur, maka sudah terputus semua amal kita dan kita tak akan lagi bisa memilih.

Surga itu bisa dipesan. Istilahnya dibooking lah sekarang bahasa kerennya. Dengan cara apa? Dengan cara amar ma’ruf nahi munkar. Selalu melakukan kebaikan dengan meniru sebisa mungkin akhlak Rosulullah. Melakukan segala perbuatan selalu bercermin 'kalau Rosul bagaimana ya cara beliau melakukannya?’. Dengan demikian, maka tindak tanduk kita akan berada dalam hal baik. Perbuatan baik itu gampang dan tanpa biaya. Baca Alquran contohnya.


Demikian juga neraka, tempat adzab penyiksaan akhirat, bisa juga pesan tempat. Dengan mengeluarkan biaya. Misal judi dan minum-minuman keras. Sudah keluar uang, kelak dapat siksa juga. Malang sekali nasibnya.

Semua orang memiliki jatah tempat di surga dan neraka. Keputusan berada pada orang itu sendiri. Apakah ingin membangun rumah di surga atau malah di neraka? Orang tersebut yang akan membangunnya dengan berbagai bekal yang sudah dikumpulkan mulai sekarang, di dunia. Apabila satu tempat telah dipilih untuk dibangun, maka tempat lain akan dihapuskan oleh Alloh. Kita memilih melakukan kebaikan selama di dunia, maka jatah tempat kita di neraka akan dihapuskan oleh Alloh. Begitupun sebaliknya.


Oleh karena itu, pandai-pandai memilih tempat. Pandai memilih jalan. Pandai memilih teman dan sahabat. Berlomba-lomba dalam kebaikan.