Rabu, 13 Agustus 2014

Jangan Segan untuk Malu

Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki rasa malu. Namun, malu yang dimaksud adalah malu pada tempatnya. Apa maksudnya? Ya...malu yang ditempatkan pada waktu yang tepat dan pas. Malu ketika akan melakukan dosa maksiat misalnya. Bukan malah malu saat posisi benar atau dalam kebaikan. Itu malah salah besar.

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ

"Dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata, "Rasulullah SAW lewat di hadapan seorang Ansar yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman."

Sebagaimana sabda baginda Rasulullah SAW di atas, malu bukanlah sebuah penyakit (dalam konteks malu yang telah dijelaskan sebelumnya di atas). Malu adalah sifat manusia yang sudah ada fitrahnya dari Sang Kholiq. Iman kita dapat dilihat dari rasa malu yang ada dalam diri. Apakah Anda masih merasa memiliki malu? Malukah Anda ketika berbuat dosa dan maksiat? Ini kalimat retoris yang tak perlu jawaban, karena diri kita sendiri yang bisa menemukan jawabannya.



Saat berbuat dosa dan maksiat itu adalah saat dimana kita sudah tidak memiliki rasa malu. Malu kepada siapa? Jawabnya jelas, malu kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sudah jelas-jelas kita semua meyakini adanya para malaikat yang senantiasa menjadi bodyguard dan semacam CCTV non-stop. Kita lebih banyak melupakannya. Memang benar, yang tak terlihat bukan berarti tidak ada. Ingat...masih ada Yang Maha Melihat. Mari ucapkan banyak istighfar atas segala khilaf!

Selasa, 27 Mei 2014

(Dibalik) Isro' Mi'roj

Semua orang Islam tahu berapa jumlah sholat dalam sehari semalam? Ya..benar. Lima kali. Itulah perintah yang langsung diterima oleh Nabi kita, Rosululloh Muhammad SAW dari Alloh SWT. Betapa pentingnya perintah sholat ini sampai-sampai beliau sendiri yang dihadapkan langsung pada Alloh. Bukan seperti wahyu-wahyu biasa yang selalu disampaikan dengan perantara malaikat Jibril.

Sholat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadatain. Menempati kedudukan tinggi karena perintah ini langsung diterima Rosul saat beliau Mi'roj sampai langit ke-7. Amal yang dihisab pertama kali pun juga sholat.



Apa yang Melatarbelakangi Peristiwa Agung Ini?
Tahun itu Rosululloh berada pada tahun duka cita. Beliau ditinggal wafat orang-orang yang paling dicintainya. Mulai dari paman Abu Tholib, kekek Abdul Mutholib dan juga istri beliau Khodijah. Semua wafat dalam jeda waktu beberapa tahun yang singkat. Terlebih lagi setelah sepeninggal paman Abu Tholib, Rosululloh sangat kehilangan orang yang selalu mendukung dan melindungi dari kaum kafir Quraisy.


Berawal dari tahun duka tersebut, Alloh merencanakan Isro' Mi'roj untuk menghibur Rosul. Isro' Mi'roj perjalanan semalam saja mulai dari Masjidil Haram, Makkah sampai Masjidil Aqsa, Palestina. Dilanjutkan dari Masjidil Aqsa yang sebelumnya sholat dua rokaat dahulu dan naik sampai langit ke-7.

* * *

Perjalanan Isro' Mi'roj ini memakai kendaraan yang bernama Buroq. Kendaraan akhirat yang super cepat dengan jarak sekejap melangkah sejauh mata memandang.


Rosululloh ditemani malaikat Jibril, pada setiap langit bertemu dengan para Nabi terdahulu dan menyampaikan salam pada beliau. Beliau juga dipelihatkan nikmat dan adzab pengguni akhirat.

Perintah Sholat 50 Kali dalam Sehari?
Awal menerima perintah sholat dari Alloh yaitu sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Tidak dapat dibayangkan berapa jeda antara sholat satu dengan berikutnya. Betapa padat untuk ibadah waktu yang kita gunakan. Namun, ketika turun menuju langit yang lebih rendah, Rosululloh bertemu dengan Nabi Musa AS. Nabi yang terkenal dengan gelar Kalimulloh. Nabi yang berbicara langsung dengan Tuhan. Sudah terbiasa bertanya dan protes dengan Alloh. Wajar apabila dalam masalah sholat ini beliau turut berkomentar pada Rosululloh.

Umat Nabi Musa, Bani Isroil, umat terdahulu yang lebih kuat dan lebih besar badannya saja banyak yang tidak sanggup, tidak mampu menjalankan sholat sebanyak 50 kali. Apalagi umat nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW yang bertubuh kecil dan lebih lemah. Untuk itu, Nabi Musa menyarankan agar Rosululloh kembali menghadap Alloh untuk mengurangi jumlah sholat.

Sampai pada sembilan kali Rosululloh SAW naik turun dari langit, maka akhirnya ditetapkan sholat sehari semalam sebanyak lima waktu yang wajib kita tunaikan ini. Sebenarnya Rosululloh masih disuruh menghadap Alloh oleh Nabi Musa. Namun, beliau sudah merasa malu pada Tuhan. " Berat ringan akan saya jalani", jawab Rosululloh. Firman Alloh, sholat lima kali tersebut sama halnya berpahala sholat 50 kali. Karena nilai sholat sekali sama dengan 10 kali.

Apa yang Perlu Ditekankan?
Yang perlu digarisbawahi peristiwa agung Isro' Mi'roj ini adalah salah satu mukjizat Rosululloh Muhammad SAW yang harus kita percayai. Karena teknologi apapun dan pemikiran manusia manapun tidak akan mampu menjamah wilayah ini. Tugas kita hanyalah mengimaninya dengan sepenuh hati. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar yang mendapatkan gelar As-Shidiq. Gelar yang disamatkan atas pengimanan beliau akan peristiwa ini dimana kaum kafir Quraisy ingkar dan tak mempercayai apa yang telah disampaikan Rosul.

Rabu, 05 Februari 2014

Keadilan Hakim

Dikisahkan suatu waktu ada seorang yang berkelana melewati sebuah perkampungan. Dia menaiki sekor kuda sebagaimana orang berkelana jaman dahulu. Ketika itu, tak disangka ada seekor anak sapi ikut dibelakang kudanya. Anak sapi yang diketahui adalah milik petani kampung tersebut.

Terjadilah perselisihan antara si petani dan pengelana itu. Si petani bilang, anak sapi itu adalah miliknya. Namun, si pengelana membantah bahwa itu adalah anak kuda miliknya. Karena mengikuti dibelakang kuda.

Kemudian perkara perselisihan ini diajukan ke pengadilan. Dalam hal ini si empunya kuda menyuap sang hakim untuk memenangkan posisinya.
Hakim 1: hakim tingkat pertama sudah disuap. Maka menjawab “Itu anak kuda, karena ikut dibelakang induknya, yaitu kuda”. Petani kalah. Ajukan banding ke pengadilan selanjutnya.
Hakim 2: hakim tingkat kedua juga terkena suap. Maka dimenangkan juga si pengelana tersebut dengan alasan yang sama.
Hakim 3: hakim pusat.hakim yang jujur dan tidak mau disuap.
            “Saya tidak menjadi hakim pada hari ini. Karena saya sedang haid, jadi tidak bisa memutuskan”, kata hakim sembari setelah melihat kasus yang terjadi.
            “Mana mungkin seorang laki haid?”, bantah si empunya kuda dengan cepat dan tanggap.
            “Mana mungkin kuda bisa beranakkan sapi?”, sahut jawaban hakim.
Akhirnya perkara anak sapi ini dimenangkan oleh si petani yang memang pemiliknya.

# # # # #

Dari kisah singkat diatas sangat jelas bahwa seorang hakim itu berat godaannya. Baik dari setan berwujud maupun yang tak tampak. Dalam pengambilan keputusan haruslah tepat dan seadil-adilnya. Hikim harus selalu memihak pada kebenaran. Membenarkan yang benar dan menyalahkan yang memang itu salah.

Berikut ini adalah beberapa sabda Rosululloh SAW:
Dari Buraidah Rodliyallohu 'anhu bahwa Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda: Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi)

Dari Amar Ibnu Al-'Ash Rodliyallohu 'anhu bahwa ia mendengar Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seorang hakim menghukum dan dengan kesungguhannya ia memperoleh kebenaran, maka baginya dua pahala; apabila ia menghukum dan dengan kesungguhannya ia salah, maka baginya satu pahala." (Muttafaqun Alaihi)


Abu Hurairah Rodliyallohu 'anhu berkata: Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam melaknat penyuap dan penerima suap dalam masalah hukum. (Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Hibban)
Sejatinya keputusan seorang hakim itu ada 2 tempat yang menunggunya. Hanya ada 2 balasan. Jikalau tidak surga, berarti sudah pasit neraka tempatnya. Hakim yang adil lah yang berhak mendapatkan ganjaran surganya Alloh.

Rabu, 29 Januari 2014

Isi Penuh Wadah Imanmu

Iman menurut artinya yaitu percaya. Percaya yang bagaimana? Sebagaimana yang kita ketahui, yang setiap orang Islam wajib percaya, disebutkan dalam rukun iman. Sejak kecil waktu kita menginjak usia sekolah, kita masih ingat apa yang diajarkan oleh guru-guru kita, maupun ustadz ustadzah waktu ngaji. Sudah hafal diluar kepala apa saja tiu rukun iman yang berjumlah enam. Yaitu, iman kepada Alloh, iman kepada malaikat-Nya, iman kepada kitab-Nya, iman kepada rosul-Nya, iman kepada hari akhir, iman kepada takdir baik dan buruk.
Semuanya wajib kita percayai. Sehingga kita layak dikatakan sebagai orang mukmin.

Ibarat berbelanja, maka iman adalah wadah kita. Tempat menaruh barang. Hidup kita di dunia ini hanya sebatas mampir minum saja menurut para ulama. Hanya sekejap saja. Karena sejatinya kita itu memang bukan penduduk dunia ini, tetapi surga. Di dunia kita sebanyak-banyaknya mengambil bekal untuk akhirat.

Kita membutuhkan amal untuk akhirat kelak. Amal ini adalah untuk mengisi wadah, yaitu iman kita. Banyak amal berarti juga wadah kita banyak isinya. Orang muslim sudah mempunyai wadah/iman. Tinggal mencari isinya saja.



Berbeda dengan orang non-muslim. Sebanyak apapun mereka beramal, meraka tak akan memperoleh pahala/isi. Karena mereka tak mempunyai wadah tempat amal itu. Maka apapun yang dilakukan tak akan ada manfaatnya sama sekali.


Wajib bagi kita sebagai orang muslim selalu bersyukur atas nikmat Islam. Mungkin ada yang mempunyai tanda tanya besar mengapa? Karena dalam hal masalah kelahiran di dunia ini, kita tak akan bisa memilih, kita dikandung dalam rahim ibu siapa dan dimana tempat kita dilahirkan. Suatu anugrah yang besar yaitu kita dilahirkan dan memiliki orang tua muslim. Ya, kita Islam karena lantaran orang tua kita muslim dan beliau mendidik kita sebagai muslim. Alhamdulillah bi ni’matillah. Tak masalah. Walaupun mungkin ada yang bilang Islam yang kurang kuat atau apalah dikarenakan bukan dari pencarian sendiri, melainkan karena keturunan. Itu tidak perlu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah bersyukur kita dilahirkan sebagai muslim. J

Selasa, 28 Januari 2014

Jatah di Dua Tempat

Dua pilihan. Ada dua tempat. Surga dan neraka. Semua adalah sebuah pilihan kita. Mulai dari sekarang kita memilihnya. Yaitu semasa kita masih hidup di dunia. Sesudah kita mati, di alam kubur, maka sudah terputus semua amal kita dan kita tak akan lagi bisa memilih.

Surga itu bisa dipesan. Istilahnya dibooking lah sekarang bahasa kerennya. Dengan cara apa? Dengan cara amar ma’ruf nahi munkar. Selalu melakukan kebaikan dengan meniru sebisa mungkin akhlak Rosulullah. Melakukan segala perbuatan selalu bercermin 'kalau Rosul bagaimana ya cara beliau melakukannya?’. Dengan demikian, maka tindak tanduk kita akan berada dalam hal baik. Perbuatan baik itu gampang dan tanpa biaya. Baca Alquran contohnya.


Demikian juga neraka, tempat adzab penyiksaan akhirat, bisa juga pesan tempat. Dengan mengeluarkan biaya. Misal judi dan minum-minuman keras. Sudah keluar uang, kelak dapat siksa juga. Malang sekali nasibnya.

Semua orang memiliki jatah tempat di surga dan neraka. Keputusan berada pada orang itu sendiri. Apakah ingin membangun rumah di surga atau malah di neraka? Orang tersebut yang akan membangunnya dengan berbagai bekal yang sudah dikumpulkan mulai sekarang, di dunia. Apabila satu tempat telah dipilih untuk dibangun, maka tempat lain akan dihapuskan oleh Alloh. Kita memilih melakukan kebaikan selama di dunia, maka jatah tempat kita di neraka akan dihapuskan oleh Alloh. Begitupun sebaliknya.


Oleh karena itu, pandai-pandai memilih tempat. Pandai memilih jalan. Pandai memilih teman dan sahabat. Berlomba-lomba dalam kebaikan.